Pada masa itu
kehidupan para pemusik blues sangat
berat, bahkan bagi tokoh sekelas Muddy
Waters pun. Blues tidak mendapat tempat, di radio, di televisi dimanapun. Kami
semua terkunci di ruang belakang. Dan Stevie lah yang membuka kunci itu, dan
membuat kami semua bisa keluar. Stevie membukanya dengan permainan gitarnya.
Dia megguncang, dan menolong kami semua.
Sekedar ilustrasi , Blues mengalami jaman keemasan yang
pertama pada era tahun 50 an, terutama di awal tahun 50 an sampai sekitar
pertengahan tahun 50an. Tokoh utamanya,
siapa lagi kalau bukan Muddy Waters, dengan Chicago Bluesnya. Jaman keemasan di sini bisa kita artikan
bahwa blues bisa masuk ke dalam industri
musik ( meskipun pada periode ini blues hanya menjadi musik kelas 2, yang hanya
diterima oleh orang kulit hitam). Dengan
munculnya musik rock’n’ roll, Chuck
Berry, Little Richard dll, kepopuleran blues surut. Sampai akhirnya bangkit lagi disekitar
pertengahan tahun 60 an, dengan figur sentralnya JOHN MAYALL, orang Inggris,
yang berkulit putih. Blues diterima dikalangan publik yang lebih luas
dibandingkan tahun 50 an. Ia diterima dikalangan kulit putih dan kulit apapun,
termasuk kulit sawo matang (Indonesia), menjadi mainstream, menjadi trend.
Tapi di sekitar akhir tahun 60 an, awal
tahun 70 an, trend blues surut, digantikan oleh musik hard rock, Led Zeppelin,
Deep Purple Black Sabbath dstnya. Pemusik blues tercecer, hanya main di
klub-klub kecil. Atau dengan bahasa Buddy Guy seperti yang diungkapkan di atas
para pemusik blues terkunci di ruang belakang.
![]() |
| Album pertama SRV, Texas Flood |
Sampai kemudian hadir Stevie Ray Vaughan dengan album Texas
Flood (1983), yang terjual lebih dari setengah juta keping. Ia
meraih perhatian sekaligus penghargaan dari pembaca Guitar Player
Magazine, mereka memilih Stevie Ray sebagai “Best New Talent” dan “Best
Electric Blues Guitar Player.” Sedangkan
albumya sendiri meraih predikat “Best Guitar Album”. Ini semua menjadi awal
dari suatu proses kebangkitan Blues yang ke dua (Blues Revival II). Stevie Ray berhasil memadukan elemen blues
dan rock sedemikian rupa dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang
sebelumnya. Ia menyerap semua sumber blues yang dianggap baik, mulai dari permainanAlbert King, Freddie King, BB King, Muddie Waters, Otis Rush, Buddy Guy,
Jimi Hendrix, hingga sosok yang kurang begitu mendapat perhatian orang, Lonie
Mack. Ia juga menyimak permainan Johnny Guitar Wetson, bahkan juga musis jazz
Kenny Burrel. Kemudian semua ini
diartikulasikan dalam permainannya yang khas. Lagu-lagu blues klasik
seperti Marry Had A Little Lamb yang dibawakan pertama kali oleh Buddy Guy di
awal tahun 60 an, atau bahkan lagu Texas Flood yang merupakan lagu milik
grupnya Fenton Robbinson yang dibawakan pertama kali dipertengahan tahun 50 an,
hanyalah berapa contoh dari lagu-lagu
blues klasik yang menjadi lagu-lagu “baru’ yang segar ketika dimainkan ulang oleh
Stevie Ray, dan bahkan membuat banyak orang menganggap lagu tersebut sebagai
lagu Stevie Ray. Persentuhan album-album
Stevie Ray berikutnya, Couldn’t Stand The Weather ( 1984) Soul To Soul (1985), Live Allive (1986),In Step (1989), Family
Style (1990) dengan ajang grammy membuat musik blues kembali dilirik orang dan industri rekaman.
Dengan unsur rocknya, Stevie Ray Vaughan menarik generasi
baru peminat blues, terutama kaum muda yang
suka dengan musik yang dinamis.
Dan daya tarik ini makin
dipertegas karena ( sayangnya) dengan kematian Stevie Ray yang tragis pada
tahun 1990. Stevie Ray menjadi perhatian masyarakat yang lebih luas, karena
berita- berita kematiannya, karya-karyanya dirilis ulang, bahkan karya-karya
yang tersembunyi digudang perusahaan rekaman yang belum dan bisa jadinya tadinya dianggap tidak layak
dirilis, akhirnya dirilis.
Stevie Ray Vaughan tentu bukan satu-satunya
faktor yang melahirkan era Blues Revival II ( yang dampaknya masih terus kita
rasakan hingga sekarang), kalau kita cermati, besar juga peranan munculnya
Compact Disc, fenomena Robert Cray, John Lee Hooker dengan fenomena album The
Healler yang menerima Grammy di tahun 1989, dan mungkin juga ada faktor lain.
Namun susah disangkal,bahwa Stevie Ray merupakan figur sentral era blues
revival II, yang menjadi triger kebangkitan blues ini. Dan jika kita akan
mengukur ketokohan orang dari seberapa besar ia mampu memberi insiprasi, Stevie
Ray Vaughan telah membuktikan itu. Bahkan sampai ke Indonesia, lihatlah Rama
Satria Claproth, Gugun (dari Gugun & The Blues Shelter) yang sekarang
sedang ada di atas, siapa yang berani menyangkal mereka berdua tidak
terinspirasi oleh Stevie Ray Vaughan ? atau Lance Lopez yang ada di luar sana,
hingga sosok -sosok yang belum punya nama yang kita tidak tahu yang juga
menjadi pengaggum Stevie Ray. Yang jelas Stevie Ray Vaughan memperkenalkan
blues kepada banyak orang, dan secara perlahan lewat musiknya ia juga
memperkenalkan Jimi Hendrix, Albert
King, Freddie King, Mudy Waters dan tokoh- tokoh blues lainnya, kepada orang
banyak, kepada generasi baru pecinta blues.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar