Kamis, 26 April 2018

Jimi Hendrix Mati Muda, tapi Namanya Begitu Melegenda

Hello teman-teman semuanya!

Kembali lagi bersama saya di blog musik tergila ini. Nah pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang musisi legendaris idola banyak orang, Jimi Hendrix. Ia sering disebut sebagai salah satu pemain gitar listrik paling berpengaruh dalam sejarah musik rock. Namun sayang, dewa gitar ini meninggal pada usia 27 tahun dan karirnya cukup pendek dalam dunia musik. Sekarang mari kita bahas bagaimana perjalan hidup sang legenda ini!


18 Juni 1967. Fotografer Ed Caraeff sedang leyeh-leyeh di sebuah kursi, di depan panggung Monterey Festival. Di atas pentas, band bernama The Jimi Hendrix Experience sedang melakukan debut panggung besarnya. Hingga kemudian Hendrix, gitaris merangkap vokalis band itu, menyiramkan butane ke atas gitar dan menyulut api.

Caraeff yang masih berusia 17 langsung gerak cepat, merasa bahwa ini momen penting. Klik! Klik! Klik! Beberapa foto ia ambil dengan cepat. Setelah dicetak, baru gambar itu terlihat. Hendrix mengenakan celana merah, gaun ruffled lengan panjang, rompi hitam, duduk bersimpuh dengan posisi tangan seperti berdoa.

Foto itu kemudian tampil sebagai gambar sampul majalah Rolling Stone dan menjadi salah satu foto paling penting, sekaligus paling ikonik, dalam sejarah rock n roll.

"Tidak ada lagi yang bisa menyamai Hendrix. Kamu tak akan pernah bisa melihat lagi momen seperti itu," ujar Caraeff pada CNN.

Pada 2012, gitar gosong itu laku terjual seharga 380 ribu dolar dalam sebuah lelang. Setelah lima tahun dikoleksi, sang pemilik sebelumnya memutuskan untuk menjual gitar bersejarah tersebut. Lembaga lelang Heritage Auctions bertugas menangani penjualannya. Mereka mematok harga awal 500 ribu dolar, dan berharap harganya bisa mencapai setidaknya 750 ribu dolar.
                                      
Jimi Hendrix memang sosok fenomenal. Ia lahir di Seattle, Washington, pada 27 November 1942—tepat hari ini 75 tahun lalu. Lahir dengan akta kelahiran tertulis Johnny Allen Hendrix, ia kemudian berganti nama jadi James Marshall Hendrix. Ia berkali-kali dinobatkan sebagai gitaris terbaik sepanjang masa, yang melahirkan riff-riff monumental.

Hendrix membeli gitar pertamanya saat berusia 15 tahun—usai penantian panjang menjadikan sapu sebagai gitar imajiner saat masih duduk di bangku SD. Ia tumbuh dengan blues. Mendengarkan B.B. King, Muddy Waters, hingga, tentu saja, Robert Johnson.

Dasar bengal, musik tidak bisa menjauhkannya dari kenakalan remaja. Ia dua kali tertangkap naik mobil curian. Menurut polisi, Hendrix sempat dipenjara sehari setelah tertangkap di kasus pertama. Setelah dilepas, empat hari kemudian Hendrix tertangkap lagi naik mobil curian. Ia kembali masuk bui, delapan hari di penjara remaja.

Dalam Room Full of Mirrors: A Biography of Jimi Hendrix (2005), disebutkan bahwa Hendrix terancam penjara 5 tahun jika terbukti bersalah. Jaksa penuntut memberikan tawaran: penjara atau mendaftar jadi tentara. Bagi pria dengan imajinasi seliar Hendrix, penjara lebih mengerikan ketimbang kemungkinan tertembak bedil. Ia memilih mendaftar ke tentara.

Serdadu Nakal yang Dipaksa Keluar
31 Mei 1961. Hendrix tiba di Fort Ord, California, untuk memulai latihan militer dasar. Saat mendaftar, ia memilih posisi sebagai juru tulis dan meminta ditugaskan di kesatuan 101st Airborne. Ia mengaku tertarik masuk sebagai penerjun payung karena, "ada bonus 55 dolar per bulan."
                                                      
Di markas angkatan udara di Kentucky, Hendrix tetap bermain gitar. Sang ayah yang mengirimnya dari rumah. Ia kemudian mengenal Billy Cox, pemain bass yang kelak menjadi rekan Hendrix di Band of Gypsys dan Cry of Love. Mereka kemudian rutin manggung setiap akhir pekan.

Hendrix tak pernah betah di militer. Ia pernah menyebut, "amat benci kehidupan militer." Meski begitu, ia tetap menyelesaikan latihan sebagai penerjun payung dalam waktu 8 bulan. Beberapa atasan mulai mengkritik sikapnya yang bengal dan susah diatur.

Salah satu yang mengeluh adalah sersan di kesatuannya, James C. Spears. Keluhannya ditulis dalam Becoming Jimi Hendrix: From Southern Crossroads to Psychedelic London, the Untold Story of a Musical Genius (2010).

"Hendrix tidak punya ketertarikan atau minat di militer. Pendapat saya, tamtama Hendrix tidak akan pernah bisa memenuhi standar seorang tentara. Saya merasa, militer akan diuntungkan jika ia diberhentikan secepat mungkin," ujar Spears.

Lucunya, Kapten Gilbert Batchman kemudian menambahkan catatan "kenakalan" untuk mendukung diberhentikannya Hendrix. Kenakalan itu antara lain: tidak peduli pada peraturan, masturbasi di area militer. Akhirnya pada 29 Juni 1962, Hendrix diberhentikan dengan hormat.

Dunia musik berutang besar pada sikap bengal Hendrix, maupun kebesaran hati para petinggi militer—yang bisa saja lebih keras kepala mendidik Hendrix atau menerjunkannya di area perang, alih-alih melepasnya. Kalau tidak begitu, kita semua akan merugi: gagal menikmati musik yang dihasilkan gitaris kidal ini.

Lahirnya Sang Legenda
Setelah sempat melanglang di Tennessee bersama Cox, Hendrix merekam lagu "Testify" dengan label Isley Brothers. Tapi gagal. Hendrix juga sempat menjadi gitaris bagi Little Richards.
                                
Karier bermusiknya mulai menemukan titik terang pada 1966. Chas Chandler dari band The Animals membawanya ke London untuk bertemu dengan dua musisi dari Inggris, bassist Noel Redding dan drummer Mitch Mitchell. Trio ini kemudian disatukan menjadi The Jimi Hendrix Experience. Biasa disingkat The Experience. Chandler berperan besar dalam karier Hendrix. Selain membawanya ke Inggris dan menjadi manajernya kelak, Chandler pula yang punya ide mengganti nama Jimmy menjadi Jimi.

Bersama The Experience, Hendrix tampil menjadi dewa gitar baru. Lagu-lagunya perpaduan dari kebisingan distorsi dan keanggunan blues. Kalau soal suara, Hendrix boleh saja tidak perlu dianggap serius. Tapi soal gitar, ia memang seorang maestro.
Album pertamanya, Are You Experienced (1967), melahirkan banyak lagu hits dengan permainan gitar yang layak dikenang. "Fire" menampilkan sisi yang eksplosif, "Manic Depression" yang mencolok kuping, "Hey Joe" dengan intro yang membuatmu membayangkan bagaimana perasaan lelaki penuh angkara yang menenteng pistol, hingga "The Wind Cries Mary" yang kemudian menjadi semacam purwarupa "Little Wing".

The Experience merilis dua album pada 1967. Axis: Bold as Love dilepas sebagai album kedua. "Bold as Love" menampilkan sisi pop Hendrix. Pilihan riff, juga liukan petikan gitar, menghasilkan lagu yang di kemudian hari banyak digarap ulang, termasuk oleh John Mayer. Dan jangan lupakan "Little Wing" yang bisa jadi adalah salah satu lagu blues paling dikenal di dunia. Ia menjadi "lagu kebangsaan" para gitaris yang ingin unjuk kemahiran jemari.
Karier The Experience dipungkasi oleh Electric Ladyland (1968). Album ini melahirkan lagu legendaris "Voodoo Chile" (atau "Voodoo Child (Slight Return)", yang menunjukkan bahwa Hendrix sering lupa judul sendiri hingga membuat banyak orang bingung) dan juga "Crosstown Traffic" yang bisa membawa kita membayangkan betapa riuhnya New York—atau Jakarta, terserah Anda.

Rock and Roll Hall of Fame menyebut bahwa Hendrix adalah "instrumentalis terbaik dalam sejarah musik rock." Ia adalah epitome dari cool, kekerenan. Teknik menggigit senar dengan gigi memang bukan ciptaannya, tapi teknik itu jadi wah dan bikin orang ternganga saat Hendrix yang melakukannya.
Sebagai gitaris, Hendrix dikenal dengan teknik bermain di luar pakem. Salah satunya adalah menekan senar keenam dengan jempol, seperti yang ia lakukan di intro "Little Wing". Penulis Richie Unterberger menyebut Hendrix punya kemampuan untuk bermain gitar sebagai pemain solo dan pemain ritem—dibiasakan oleh The Experience yang hanya trio. Hendrix juga disebut-sebut sebagai gitaris yang mempopulerkan efek wah-wah dalam musik rock.

Karier Hendrix terbilang pendek. Namun dalam rentang waktu itu, Hendrix berhasil membuat tiga album sukses dan beberapa penampilan spektakuler. Orang-orang mengenangnya mulai dari Monterey Pop Festival hingga Woodstock 1969 yang bersejarah itu. Para pecinta rock di seluruh dunia kemudian sepakat, saat Hendrix meninggal di usia 27 pada 18 September 1970: musik rock tak akan pernah sama lagi.


Baik, mungkin itulah yang dapat saya bagikan ke kalian. Tak lupa berterima kasih kepada kalian yang bersedia meluangkan waktunya untuk membaca blog ini.

Semoga bermanfaat.

Peran Sentral Stevie Ray Vaughan Dalam Kebangkitan Musik Blues

Pada masa  itu kehidupan para  pemusik blues sangat berat, bahkan  bagi tokoh sekelas Muddy Waters pun. Blues tidak mendapat tempat, di radio, di televisi dimanapun. Kami semua terkunci di ruang belakang. Dan Stevie lah yang membuka kunci itu, dan membuat kami semua bisa keluar. Stevie membukanya dengan permainan gitarnya. Dia megguncang, dan menolong kami semua.

Itulah kurang lebih kata-kata yang diungkapkan oleh Buddy Guy pada introdulsi buku  biografi  Stevie Ray Vaughan, Soul To Soul yang ditulis oleh Keri Leigh. Berlebihan? Well tentu saja tidak, John Mayallpun dalam wawancara dengan GUITAR MAGAZINE tak segan-segan menyebut Stevie Ray Vaughan sebagai figur sentral BLUES REVIVAL II,. Sedangkan  Bruce Igllauer,  pendiri Alligator Records berkata bahwa kalau sekedar pemusik blues bagus, sekarang banyak, tapi pemusik blues yang mampu memberi inspirasi itu yang sulit di dapat. Stevie “menghidupkan kembali” musik Blues, dengan menarik penggemar musik rock, katanya.


Sekedar ilustrasi , Blues mengalami jaman keemasan yang pertama pada era tahun 50 an, terutama di awal tahun 50 an sampai sekitar pertengahan tahun 50an.  Tokoh utamanya, siapa lagi kalau bukan Muddy Waters, dengan Chicago Bluesnya.  Jaman keemasan di sini bisa kita artikan bahwa blues  bisa masuk ke dalam industri musik ( meskipun pada periode ini blues hanya menjadi musik kelas 2, yang hanya diterima oleh orang kulit hitam).  Dengan munculnya  musik rock’n’ roll, Chuck Berry, Little Richard dll, kepopuleran blues surut.  Sampai akhirnya bangkit lagi disekitar pertengahan tahun 60 an, dengan figur sentralnya JOHN MAYALL, orang Inggris, yang berkulit putih. Blues diterima dikalangan publik yang lebih luas dibandingkan tahun 50 an. Ia diterima dikalangan kulit putih dan kulit apapun, termasuk kulit sawo matang (Indonesia), menjadi mainstream, menjadi trend. Tapi  di sekitar akhir tahun 60 an, awal tahun 70 an, trend blues surut, digantikan oleh musik hard rock, Led Zeppelin, Deep Purple Black Sabbath dstnya. Pemusik blues tercecer, hanya main di klub-klub kecil. Atau dengan bahasa Buddy Guy seperti yang diungkapkan di atas para  pemusik blues  terkunci di ruang belakang.

Album pertama SRV, Texas Flood
Sampai kemudian hadir Stevie Ray Vaughan dengan album Texas Flood (1983), yang terjual lebih dari setengah juta  keping. Ia  meraih perhatian sekaligus penghargaan dari pembaca Guitar Player Magazine, mereka memilih Stevie Ray sebagai “Best New Talent” dan “Best Electric Blues Guitar Player.”  Sedangkan albumya sendiri meraih predikat “Best Guitar Album”. Ini semua menjadi awal dari suatu proses kebangkitan Blues yang ke dua (Blues Revival II).  Stevie Ray berhasil memadukan elemen blues dan rock sedemikian rupa dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang sebelumnya. Ia menyerap semua sumber blues yang dianggap baik, mulai dari  permainanAlbert King, Freddie King,  BB King, Muddie Waters, Otis Rush, Buddy Guy, Jimi Hendrix, hingga sosok yang kurang begitu mendapat perhatian orang, Lonie Mack. Ia juga menyimak permainan Johnny Guitar Wetson, bahkan juga musis jazz Kenny Burrel. Kemudian semua ini  diartikulasikan dalam permainannya yang khas. Lagu-lagu blues klasik seperti Marry Had A Little Lamb yang dibawakan pertama kali oleh Buddy Guy di awal tahun 60 an, atau bahkan lagu Texas Flood yang merupakan lagu milik grupnya Fenton Robbinson yang dibawakan pertama kali dipertengahan tahun 50 an, hanyalah berapa contoh  dari lagu-lagu blues klasik yang menjadi lagu-lagu “baru’ yang segar ketika dimainkan ulang oleh Stevie Ray, dan bahkan membuat banyak orang menganggap lagu tersebut sebagai lagu Stevie Ray.  Persentuhan album-album Stevie Ray berikutnya, Couldn’t Stand The Weather ( 1984) Soul To Soul (1985),  Live Allive (1986),In Step (1989), Family Style (1990) dengan ajang grammy membuat musik blues kembali dilirik orang  dan industri rekaman.

Dengan unsur rocknya, Stevie Ray Vaughan menarik generasi baru peminat blues, terutama kaum muda yang  suka dengan musik yang dinamis.  Dan  daya tarik ini makin dipertegas karena ( sayangnya) dengan kematian Stevie Ray yang tragis pada tahun 1990. Stevie Ray menjadi perhatian masyarakat yang lebih luas, karena berita- berita kematiannya, karya-karyanya dirilis ulang, bahkan karya-karya yang tersembunyi digudang perusahaan rekaman yang belum  dan bisa jadinya tadinya dianggap tidak  layak  dirilis, akhirnya dirilis.


Stevie Ray Vaughan tentu bukan satu-satunya faktor yang melahirkan era Blues Revival II ( yang dampaknya masih terus kita rasakan hingga sekarang), kalau kita cermati, besar juga peranan munculnya Compact Disc, fenomena Robert Cray, John Lee Hooker dengan fenomena album The Healler yang menerima Grammy di tahun 1989, dan mungkin juga ada faktor lain. Namun susah disangkal,bahwa Stevie Ray merupakan figur sentral era blues revival II, yang menjadi triger kebangkitan blues ini. Dan jika kita akan mengukur ketokohan orang dari seberapa besar ia mampu memberi insiprasi, Stevie Ray Vaughan telah membuktikan itu. Bahkan sampai ke Indonesia, lihatlah Rama Satria Claproth, Gugun (dari Gugun & The Blues Shelter) yang sekarang sedang ada di atas, siapa yang berani menyangkal mereka berdua tidak terinspirasi oleh Stevie Ray Vaughan ? atau Lance Lopez yang ada di luar sana, hingga sosok -sosok yang belum punya nama yang kita tidak tahu yang juga menjadi pengaggum Stevie Ray. Yang jelas Stevie Ray Vaughan memperkenalkan blues kepada banyak orang, dan secara perlahan lewat musiknya ia juga memperkenalkan Jimi Hendrix,  Albert King, Freddie King, Mudy Waters dan tokoh- tokoh blues lainnya, kepada orang banyak, kepada generasi baru pecinta blues.