Selasa, 01 Mei 2018

Album Rock Favorit, Nevermind

Hai teman-teman semuanya!
Kembali lagi bersama saya di blog musik tergokil ini. Nah pada kesempatan kali ini, saya akan membahas fakta-fakta album rock favorit saya yaitu Nevermind yang merupakan karya band rock asal Amerika, Nirvana yang dirilis pada 24 September 1991. Tanpa banyak basa basi, yuk kembali ke topik aja.

1. Kurt Cobain agak khawatir dengan lagu Come As You Are
Intro lagu Come As You Are terdengar sangat mirip dengan intro gitar Killing Joke pada singel mereka, Eighties. Cobain tahu mengenai hal ini, ia sempat berpikir bahwa fans dan stasiun radio akan memboikot lagu ini dan menganggap Nirvana telah membajak hak cipta orang lain. Namun sejarah menunjukkan sebaliknya, Come As Are Anda menjadi salah satu lagu Nirvana paling sukses dan tidak ada reaksi dari penggemar atau komentar dari para DJ radio bahwa ada kemiripan di antara kedua lagu. Tentu saja Come As You Are terdengar lebih baik dari Eighties.

2. Cobain menyebutkan daftar lagu secara spontan di depan eksekutif perusahaan rekaman
Ketika Nirvana selesai dengan sesi rekaman Nevermind, seperti kebanyakan band, mereka mulai memilih urutan lagu apa yang terbaik untuk album terbaru mereka. Menurut bassist Krist Novoselic dan drummer Dave Grohl, itu adalah proses seleksi yang cukup sederhana.
Beberapa minggu sebelum proses mastering akan dimulai, Cobain dan Novoselic bertemu dengan eksekutif Geffen Records untuk menyerahkan daftar lagu terakhir yang mereka pilih. Novoselic mengaku terkejut ketika melihat Cobain dengan enteng menyebutkan urutan lagu di album Nevermind dengan lancar tanpa sedikit pun kebimbangan. Entah karena ia telah memikirkan dengan masak bagaimana bentuk akhir album ini jauh sebelumnya, atau ia memang tak peduli dengan semua itu (yang terakhir ini adalah yang paling mungkin bila melihat pribadi Cobain)

3. Kiss di sampul belakang album
Sampul belakang album Nevermind menampilkan collage fotografi 'aneh dan primitif' karya Cobain yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun sebagai seniman dan penulis lagu.

Itu adalah sebuah foto monyet yang digambarkan berada di neraka. Tapi, jika Anda melihat dengan sangat jeli, Anda dapat melihat di atas kepala monyet gambar album Kiss tahun 1976, Destroyer.

Percayalah, Anda benar-benar harus mencarinya, walaupun gambarnya sedikit kabur, tapi itu memang betul-betul ada. Kiss adalah salah satu band favorit Cobain saat ia masih bocah dan sepertinya Cobain sangat menggilai album Destoyer.


Dalam sebuah wawancara Cobain pernah mengatakan, "Jika Anda melihatnya (sampul belakang Nevermind) dari dekat, ada gambar album Kiss di belakang, di atas sepotong daging."

Monyet yang muncul pada album Kiss tahun 1976, Destroyer
4. Nirvana diusir dari pesta launching albumnya sendiri
Ada sebuah tradisi di mana sebaiknya dilakukan pesta sebelum rekaman dirilis. Kadang itu sangat menyebalkan, namun jika Anda tidak melakukannya, para bos di perusahaan rekaman akan mengancam Anda dengan berkata bahwa tidak akan ada orang yang akan membeli album Anda. Tapi kita semua tahu itu adalah omong kosong, dan karena diwajibkan dalam kontrak, sehingga Anda diharapkan muncul.

Nirvana muncul untuk pesta peluncuran Nevermind di bar kecil di Seattle dengan sedikit mabuk. Setelah pesta mulai menggila, personel Nirvana dan teman-teman mereka mulai keluar jalur dengan memulai saling melempar makanan hingga membuat suasana bar betul-betul kacau.

Alhasil, trio grunge ini terpaksa digiring keluar dari pesta mereka sendiri dengan tubuh dan pakaian penuh buah, sayuran, dan saus salad.

5. Kurt Cobain meminta royalti yang lebih besar
Setelah Nevermind meledak dan menggeser Raja Pop Michael Jackson dari puncak tangga lagu Billboard 100, popularitas Nirvana makin meroket.

Cobain terdaftar sebagai penulis lirik dan lagu, sementara dua orang temannya hanya memainkan musik. Dengan Smells Like Teen Spirit menjadi lagu terpopuler di radio seluruh dunia, royalti yang mereka terima semakin melambung.

Cobain yang merasa punya andil besar dalam pembuatan lagu-lagu Nirvana menuntut kue royalti yang lebih besar. Seperti yang dapat Anda bayangkan, Novoselic dan Grohl tidak senang hati dengan tuntutan ini dan mengancam akan keluar dari Nirvana jika masalah ini tidak diselesaikan.

6. Dave Grohl bukan satu-satunya drummer di album Nevermind
Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Dave Grohl adalah drummer keenam Nirvana dan Nevermind adalah album studio pertamanya dengan Nirvana. Namun, dia bukan satu-satunya drummer di album tersebut.

Sebelum Dave Grohl masuk, Nirvana menyewa Chad Channing sebagai drummer selama seminggu di sebuah studio rekaman murahan di Seattle.

Di studio inilah bersama produer Butch Vig, Nirvana merekam demo lagu-lagu (yang dikenal sebagai Smart Sessions) yang akhirnya muncul di album Nevermind.

Lagu yang direkam dalam sesi ini adalah Lithium, In Bloom, Breed (saat itu berjudul Immodium), Stay Away (saat itu berjudul Pay To Play) dan Polly.

Polly tampaknya menjadi lagu terakhir yang tak tersentuh ketika Nirvana merekam album Nevermind di Sound City Studios di California. Saat itu, Dave Grohl sudah duduk di belakang drum kit.

Polly pada dasarnya tidak memiliki track drum. Namun, bagian chorus-nya mendapat tambahan aksen desingan cymbal. Dan pukulan cymbal Chad Channing dalam demo Polly berakhir di master Nevermind.

Alasan di balik ini cukup sederhana: Produser Vig menganggap bahwa pukulan cymbal Channing di lagu itu sudah sempurna dan punya timing yang tepat, sehingga tidak perlu lagi direkam ulang oleh Dave Grohl.

7. Endless, Nameless tidak tercetak pada 50.000 keping album Nevermind
Endless, Nameless adalah lagu tersembunyi di album Nevermind yang dimulai beberapa menit setelah lagu terakhir yang 'tenang' dan sangat pribadi, Something In The Way.

Lagu ini lahir dari sebuah jam session improvisasi yang direkam oleh sound engineer yang membiarkan pita rekaman bergulir saat Nirvana mengacaukan take rekaman lithuim. Setelah jam session itu selesai dan Cobain telah menghancurkan gitarnya berkeping-keping, mereka segera pulang ke rumah.

Vig sedang mencari gitar left handed (kidal) ketika sound engineer memutar rekaman 'gaduh' itu. Setelah mendengar rekaman spontan mereka yang kacau namun dinamis, band ini memutuskan rekaman itu harus muncul sebagai hidden track di album Nevermind.

Ketika dirilis pada 24 September 1991, lebih dari 50.000 copy album tidak menampilkan lagu Endless, Nameless. Ada kesalahan di divisi percetakan yang menyebabkan lagu penutup yang riuh di Nevermind itu harus dipotong.

8. 'Hanya butuh' USD65.000 untuk membuat album Nevermind
Rekaman album pertama Nirvana Bleach dibuat hanya dengan biaya USD606 yang mereka pinjam dari gitaris Soundgarden Chris Everman - yang kemudian ikut tur dengan Nirvana setelah album Bleach rilis.

Cukup dipahami karena Nirvana belum jadi bintang utama waktu itu. Apakah Anda berpikir setelah berhasil meneken kontrak dengan label besar akan meningkatkan anggaran produksi Anda, itu tidak terjadi pada Nirvana.

Nevermind direkam di Sound City Studios, Van Nuys, California, yang kini sudah tidak berfungsi lagi. Jika Anda pernah melihat film dokumenter Dave Grohl di Sundance tentang studio terkenal itu, Anda mungkin akan mengerti mengapa Nevermind tak begitu menelan banyak biaya.

Sound City adalah gudang lusuh, kotor dan suram yang saat itu masih dianggap 'layak' sebagai sebuah studio. Meskipun dekorasinya 'menjerit' minta direnovasi, beberapa musisi terkenal pernah rekaman di sana (Fleetwood Mac, Johnny Cash, Neil Young) karena studio itu dianggap punya live-room yang magis dan ongkos sewanya yang terjangkau. Jadi patut untuk diingat dan dipertimbangkan: anggaran besar tidak menjamin keberhasilan dan meningkatkan kesempatan Anda untuk membuat album klasik secara instan.

9. Penis bayi di sampul album Nevermind sebelumnya hendak ditutup stiker
Sampul album ini pertama kali digagas oleh Cobain di flat sewaan di mana ia berbagi kamar dengan Grohl di Seattle, setelah mereka menyaksikan sebuah film dokumenter tentang kelahiran bayi dalam air.

Cobain ingin sesuatu yang mencolok dan mudah diingat, dan berpikir bahwa bayi yang mengapung di kolam renang akan menjadi gagasan yang bagus.

Tentu saja itu ide tersebut dianggap sangat kontroversial sehingga eksekutif Geffen Records mencoba untuk meyakinkan Cobain untuk mencari ide yang lain.

Namun Cobain tetap bersikeras, dan akhirnya Geffen sepakat untuk menggunakan idenya, dengan syarat Nirvana harus menerima bila foto itu terlalu mengejutkan bagi publik, mereka harus memiliki rencana cadangan.

Rencananya adalah dengan menggunakan stiker untuk menutupi penis bayi. Namun, Cobain masih tetap alot. Ia bersedia foto itu ditutup stiker asalkan sampul album itu disertai tulisan, "Jika Anda tersinggung oleh gambar ini, Anda pasti seorang pedofil yang tersembunyi."

Ada lagi cerita menarik dari fotografer Krik Weddle yang membuat foto sampulnya. Weddle mengambil foto dari dua bayi: bayi laki-laki dan bayi perempuan. Setelah menunjukkan kumpulan foto kepada eksekutif Geffen, Weddle mengatakan ia lebih suka foto bayi perempuan. Namun, orang-orang dari Geffen mengisyaratkan bahwa mereka ingin foto bayi laki-laki.

10. Smells Like Teen Spirit diduga menjiplak lagu More Than A Feeling
Selama produksi Nevermind, Cobain selalu mengutip the Pixies sebagai pengaruh utamanya di album Nevermind untuk penggunaan dinamika keras dan tenang mereka.

Tak perlu disangsikan lagi jika Smells Like Teen Spirit adalah lagu kebangsaan remaja yang tak ada matinya, namun kritikus musik menganggap bahwa lagu tersebut kekurangan orisinalitas.

Selama penampilan Nirvana di Reading Festival '92, yang merupakan salah satu pertunjukan live mereka yang paling banyak dipuji, Cobain memainkan lagu More Than A Feeling, singel milik band progresif rock Boston, yang langsung bersambung dengan intro Smells Like Teen Spirit.

Dengan aksi panggungnya ini, Cobain seolah membuktikan bahwa bagian gitar di kedua lagu sangat mirip, juga tempo dan progresi akord-nya.

Cobain belum pernah mengakui bahwa ia telah menjiplak lagu More Than A Feeling, tetapi tindakan kadang bersuara lebih keras daripada kata-kata...


Mungkin segitu dulu fakta-fakta yang dapat saya bagikan ke kalian. Tak lupa berterima kasih kepada kalian yang bersedia meluangkan waktunya untuk membaca blog ini.
Semoga bermanfaat.

Kamis, 26 April 2018

Jimi Hendrix Mati Muda, tapi Namanya Begitu Melegenda

Hello teman-teman semuanya!

Kembali lagi bersama saya di blog musik tergila ini. Nah pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang musisi legendaris idola banyak orang, Jimi Hendrix. Ia sering disebut sebagai salah satu pemain gitar listrik paling berpengaruh dalam sejarah musik rock. Namun sayang, dewa gitar ini meninggal pada usia 27 tahun dan karirnya cukup pendek dalam dunia musik. Sekarang mari kita bahas bagaimana perjalan hidup sang legenda ini!


18 Juni 1967. Fotografer Ed Caraeff sedang leyeh-leyeh di sebuah kursi, di depan panggung Monterey Festival. Di atas pentas, band bernama The Jimi Hendrix Experience sedang melakukan debut panggung besarnya. Hingga kemudian Hendrix, gitaris merangkap vokalis band itu, menyiramkan butane ke atas gitar dan menyulut api.

Caraeff yang masih berusia 17 langsung gerak cepat, merasa bahwa ini momen penting. Klik! Klik! Klik! Beberapa foto ia ambil dengan cepat. Setelah dicetak, baru gambar itu terlihat. Hendrix mengenakan celana merah, gaun ruffled lengan panjang, rompi hitam, duduk bersimpuh dengan posisi tangan seperti berdoa.

Foto itu kemudian tampil sebagai gambar sampul majalah Rolling Stone dan menjadi salah satu foto paling penting, sekaligus paling ikonik, dalam sejarah rock n roll.

"Tidak ada lagi yang bisa menyamai Hendrix. Kamu tak akan pernah bisa melihat lagi momen seperti itu," ujar Caraeff pada CNN.

Pada 2012, gitar gosong itu laku terjual seharga 380 ribu dolar dalam sebuah lelang. Setelah lima tahun dikoleksi, sang pemilik sebelumnya memutuskan untuk menjual gitar bersejarah tersebut. Lembaga lelang Heritage Auctions bertugas menangani penjualannya. Mereka mematok harga awal 500 ribu dolar, dan berharap harganya bisa mencapai setidaknya 750 ribu dolar.
                                      
Jimi Hendrix memang sosok fenomenal. Ia lahir di Seattle, Washington, pada 27 November 1942—tepat hari ini 75 tahun lalu. Lahir dengan akta kelahiran tertulis Johnny Allen Hendrix, ia kemudian berganti nama jadi James Marshall Hendrix. Ia berkali-kali dinobatkan sebagai gitaris terbaik sepanjang masa, yang melahirkan riff-riff monumental.

Hendrix membeli gitar pertamanya saat berusia 15 tahun—usai penantian panjang menjadikan sapu sebagai gitar imajiner saat masih duduk di bangku SD. Ia tumbuh dengan blues. Mendengarkan B.B. King, Muddy Waters, hingga, tentu saja, Robert Johnson.

Dasar bengal, musik tidak bisa menjauhkannya dari kenakalan remaja. Ia dua kali tertangkap naik mobil curian. Menurut polisi, Hendrix sempat dipenjara sehari setelah tertangkap di kasus pertama. Setelah dilepas, empat hari kemudian Hendrix tertangkap lagi naik mobil curian. Ia kembali masuk bui, delapan hari di penjara remaja.

Dalam Room Full of Mirrors: A Biography of Jimi Hendrix (2005), disebutkan bahwa Hendrix terancam penjara 5 tahun jika terbukti bersalah. Jaksa penuntut memberikan tawaran: penjara atau mendaftar jadi tentara. Bagi pria dengan imajinasi seliar Hendrix, penjara lebih mengerikan ketimbang kemungkinan tertembak bedil. Ia memilih mendaftar ke tentara.

Serdadu Nakal yang Dipaksa Keluar
31 Mei 1961. Hendrix tiba di Fort Ord, California, untuk memulai latihan militer dasar. Saat mendaftar, ia memilih posisi sebagai juru tulis dan meminta ditugaskan di kesatuan 101st Airborne. Ia mengaku tertarik masuk sebagai penerjun payung karena, "ada bonus 55 dolar per bulan."
                                                      
Di markas angkatan udara di Kentucky, Hendrix tetap bermain gitar. Sang ayah yang mengirimnya dari rumah. Ia kemudian mengenal Billy Cox, pemain bass yang kelak menjadi rekan Hendrix di Band of Gypsys dan Cry of Love. Mereka kemudian rutin manggung setiap akhir pekan.

Hendrix tak pernah betah di militer. Ia pernah menyebut, "amat benci kehidupan militer." Meski begitu, ia tetap menyelesaikan latihan sebagai penerjun payung dalam waktu 8 bulan. Beberapa atasan mulai mengkritik sikapnya yang bengal dan susah diatur.

Salah satu yang mengeluh adalah sersan di kesatuannya, James C. Spears. Keluhannya ditulis dalam Becoming Jimi Hendrix: From Southern Crossroads to Psychedelic London, the Untold Story of a Musical Genius (2010).

"Hendrix tidak punya ketertarikan atau minat di militer. Pendapat saya, tamtama Hendrix tidak akan pernah bisa memenuhi standar seorang tentara. Saya merasa, militer akan diuntungkan jika ia diberhentikan secepat mungkin," ujar Spears.

Lucunya, Kapten Gilbert Batchman kemudian menambahkan catatan "kenakalan" untuk mendukung diberhentikannya Hendrix. Kenakalan itu antara lain: tidak peduli pada peraturan, masturbasi di area militer. Akhirnya pada 29 Juni 1962, Hendrix diberhentikan dengan hormat.

Dunia musik berutang besar pada sikap bengal Hendrix, maupun kebesaran hati para petinggi militer—yang bisa saja lebih keras kepala mendidik Hendrix atau menerjunkannya di area perang, alih-alih melepasnya. Kalau tidak begitu, kita semua akan merugi: gagal menikmati musik yang dihasilkan gitaris kidal ini.

Lahirnya Sang Legenda
Setelah sempat melanglang di Tennessee bersama Cox, Hendrix merekam lagu "Testify" dengan label Isley Brothers. Tapi gagal. Hendrix juga sempat menjadi gitaris bagi Little Richards.
                                
Karier bermusiknya mulai menemukan titik terang pada 1966. Chas Chandler dari band The Animals membawanya ke London untuk bertemu dengan dua musisi dari Inggris, bassist Noel Redding dan drummer Mitch Mitchell. Trio ini kemudian disatukan menjadi The Jimi Hendrix Experience. Biasa disingkat The Experience. Chandler berperan besar dalam karier Hendrix. Selain membawanya ke Inggris dan menjadi manajernya kelak, Chandler pula yang punya ide mengganti nama Jimmy menjadi Jimi.

Bersama The Experience, Hendrix tampil menjadi dewa gitar baru. Lagu-lagunya perpaduan dari kebisingan distorsi dan keanggunan blues. Kalau soal suara, Hendrix boleh saja tidak perlu dianggap serius. Tapi soal gitar, ia memang seorang maestro.
Album pertamanya, Are You Experienced (1967), melahirkan banyak lagu hits dengan permainan gitar yang layak dikenang. "Fire" menampilkan sisi yang eksplosif, "Manic Depression" yang mencolok kuping, "Hey Joe" dengan intro yang membuatmu membayangkan bagaimana perasaan lelaki penuh angkara yang menenteng pistol, hingga "The Wind Cries Mary" yang kemudian menjadi semacam purwarupa "Little Wing".

The Experience merilis dua album pada 1967. Axis: Bold as Love dilepas sebagai album kedua. "Bold as Love" menampilkan sisi pop Hendrix. Pilihan riff, juga liukan petikan gitar, menghasilkan lagu yang di kemudian hari banyak digarap ulang, termasuk oleh John Mayer. Dan jangan lupakan "Little Wing" yang bisa jadi adalah salah satu lagu blues paling dikenal di dunia. Ia menjadi "lagu kebangsaan" para gitaris yang ingin unjuk kemahiran jemari.
Karier The Experience dipungkasi oleh Electric Ladyland (1968). Album ini melahirkan lagu legendaris "Voodoo Chile" (atau "Voodoo Child (Slight Return)", yang menunjukkan bahwa Hendrix sering lupa judul sendiri hingga membuat banyak orang bingung) dan juga "Crosstown Traffic" yang bisa membawa kita membayangkan betapa riuhnya New York—atau Jakarta, terserah Anda.

Rock and Roll Hall of Fame menyebut bahwa Hendrix adalah "instrumentalis terbaik dalam sejarah musik rock." Ia adalah epitome dari cool, kekerenan. Teknik menggigit senar dengan gigi memang bukan ciptaannya, tapi teknik itu jadi wah dan bikin orang ternganga saat Hendrix yang melakukannya.
Sebagai gitaris, Hendrix dikenal dengan teknik bermain di luar pakem. Salah satunya adalah menekan senar keenam dengan jempol, seperti yang ia lakukan di intro "Little Wing". Penulis Richie Unterberger menyebut Hendrix punya kemampuan untuk bermain gitar sebagai pemain solo dan pemain ritem—dibiasakan oleh The Experience yang hanya trio. Hendrix juga disebut-sebut sebagai gitaris yang mempopulerkan efek wah-wah dalam musik rock.

Karier Hendrix terbilang pendek. Namun dalam rentang waktu itu, Hendrix berhasil membuat tiga album sukses dan beberapa penampilan spektakuler. Orang-orang mengenangnya mulai dari Monterey Pop Festival hingga Woodstock 1969 yang bersejarah itu. Para pecinta rock di seluruh dunia kemudian sepakat, saat Hendrix meninggal di usia 27 pada 18 September 1970: musik rock tak akan pernah sama lagi.


Baik, mungkin itulah yang dapat saya bagikan ke kalian. Tak lupa berterima kasih kepada kalian yang bersedia meluangkan waktunya untuk membaca blog ini.

Semoga bermanfaat.

Peran Sentral Stevie Ray Vaughan Dalam Kebangkitan Musik Blues

Pada masa  itu kehidupan para  pemusik blues sangat berat, bahkan  bagi tokoh sekelas Muddy Waters pun. Blues tidak mendapat tempat, di radio, di televisi dimanapun. Kami semua terkunci di ruang belakang. Dan Stevie lah yang membuka kunci itu, dan membuat kami semua bisa keluar. Stevie membukanya dengan permainan gitarnya. Dia megguncang, dan menolong kami semua.

Itulah kurang lebih kata-kata yang diungkapkan oleh Buddy Guy pada introdulsi buku  biografi  Stevie Ray Vaughan, Soul To Soul yang ditulis oleh Keri Leigh. Berlebihan? Well tentu saja tidak, John Mayallpun dalam wawancara dengan GUITAR MAGAZINE tak segan-segan menyebut Stevie Ray Vaughan sebagai figur sentral BLUES REVIVAL II,. Sedangkan  Bruce Igllauer,  pendiri Alligator Records berkata bahwa kalau sekedar pemusik blues bagus, sekarang banyak, tapi pemusik blues yang mampu memberi inspirasi itu yang sulit di dapat. Stevie “menghidupkan kembali” musik Blues, dengan menarik penggemar musik rock, katanya.


Sekedar ilustrasi , Blues mengalami jaman keemasan yang pertama pada era tahun 50 an, terutama di awal tahun 50 an sampai sekitar pertengahan tahun 50an.  Tokoh utamanya, siapa lagi kalau bukan Muddy Waters, dengan Chicago Bluesnya.  Jaman keemasan di sini bisa kita artikan bahwa blues  bisa masuk ke dalam industri musik ( meskipun pada periode ini blues hanya menjadi musik kelas 2, yang hanya diterima oleh orang kulit hitam).  Dengan munculnya  musik rock’n’ roll, Chuck Berry, Little Richard dll, kepopuleran blues surut.  Sampai akhirnya bangkit lagi disekitar pertengahan tahun 60 an, dengan figur sentralnya JOHN MAYALL, orang Inggris, yang berkulit putih. Blues diterima dikalangan publik yang lebih luas dibandingkan tahun 50 an. Ia diterima dikalangan kulit putih dan kulit apapun, termasuk kulit sawo matang (Indonesia), menjadi mainstream, menjadi trend. Tapi  di sekitar akhir tahun 60 an, awal tahun 70 an, trend blues surut, digantikan oleh musik hard rock, Led Zeppelin, Deep Purple Black Sabbath dstnya. Pemusik blues tercecer, hanya main di klub-klub kecil. Atau dengan bahasa Buddy Guy seperti yang diungkapkan di atas para  pemusik blues  terkunci di ruang belakang.

Album pertama SRV, Texas Flood
Sampai kemudian hadir Stevie Ray Vaughan dengan album Texas Flood (1983), yang terjual lebih dari setengah juta  keping. Ia  meraih perhatian sekaligus penghargaan dari pembaca Guitar Player Magazine, mereka memilih Stevie Ray sebagai “Best New Talent” dan “Best Electric Blues Guitar Player.”  Sedangkan albumya sendiri meraih predikat “Best Guitar Album”. Ini semua menjadi awal dari suatu proses kebangkitan Blues yang ke dua (Blues Revival II).  Stevie Ray berhasil memadukan elemen blues dan rock sedemikian rupa dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang sebelumnya. Ia menyerap semua sumber blues yang dianggap baik, mulai dari  permainanAlbert King, Freddie King,  BB King, Muddie Waters, Otis Rush, Buddy Guy, Jimi Hendrix, hingga sosok yang kurang begitu mendapat perhatian orang, Lonie Mack. Ia juga menyimak permainan Johnny Guitar Wetson, bahkan juga musis jazz Kenny Burrel. Kemudian semua ini  diartikulasikan dalam permainannya yang khas. Lagu-lagu blues klasik seperti Marry Had A Little Lamb yang dibawakan pertama kali oleh Buddy Guy di awal tahun 60 an, atau bahkan lagu Texas Flood yang merupakan lagu milik grupnya Fenton Robbinson yang dibawakan pertama kali dipertengahan tahun 50 an, hanyalah berapa contoh  dari lagu-lagu blues klasik yang menjadi lagu-lagu “baru’ yang segar ketika dimainkan ulang oleh Stevie Ray, dan bahkan membuat banyak orang menganggap lagu tersebut sebagai lagu Stevie Ray.  Persentuhan album-album Stevie Ray berikutnya, Couldn’t Stand The Weather ( 1984) Soul To Soul (1985),  Live Allive (1986),In Step (1989), Family Style (1990) dengan ajang grammy membuat musik blues kembali dilirik orang  dan industri rekaman.

Dengan unsur rocknya, Stevie Ray Vaughan menarik generasi baru peminat blues, terutama kaum muda yang  suka dengan musik yang dinamis.  Dan  daya tarik ini makin dipertegas karena ( sayangnya) dengan kematian Stevie Ray yang tragis pada tahun 1990. Stevie Ray menjadi perhatian masyarakat yang lebih luas, karena berita- berita kematiannya, karya-karyanya dirilis ulang, bahkan karya-karya yang tersembunyi digudang perusahaan rekaman yang belum  dan bisa jadinya tadinya dianggap tidak  layak  dirilis, akhirnya dirilis.


Stevie Ray Vaughan tentu bukan satu-satunya faktor yang melahirkan era Blues Revival II ( yang dampaknya masih terus kita rasakan hingga sekarang), kalau kita cermati, besar juga peranan munculnya Compact Disc, fenomena Robert Cray, John Lee Hooker dengan fenomena album The Healler yang menerima Grammy di tahun 1989, dan mungkin juga ada faktor lain. Namun susah disangkal,bahwa Stevie Ray merupakan figur sentral era blues revival II, yang menjadi triger kebangkitan blues ini. Dan jika kita akan mengukur ketokohan orang dari seberapa besar ia mampu memberi insiprasi, Stevie Ray Vaughan telah membuktikan itu. Bahkan sampai ke Indonesia, lihatlah Rama Satria Claproth, Gugun (dari Gugun & The Blues Shelter) yang sekarang sedang ada di atas, siapa yang berani menyangkal mereka berdua tidak terinspirasi oleh Stevie Ray Vaughan ? atau Lance Lopez yang ada di luar sana, hingga sosok -sosok yang belum punya nama yang kita tidak tahu yang juga menjadi pengaggum Stevie Ray. Yang jelas Stevie Ray Vaughan memperkenalkan blues kepada banyak orang, dan secara perlahan lewat musiknya ia juga memperkenalkan Jimi Hendrix,  Albert King, Freddie King, Mudy Waters dan tokoh- tokoh blues lainnya, kepada orang banyak, kepada generasi baru pecinta blues.

Minggu, 04 Maret 2018

17 Tahun Pencarian Panjang John Mayer


Hai teman-teman semuanya!
Apa kabarnya? Semoga dalam kedaan yang baik.
Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang salah satu musisi favorit saya seperti di judul, John Mayer. Saya akan membahas 17 tahun perjalanan hidup John Mayer dalam dunia musik. Yuk langsung check ulasannya.



Hampir 15 tahun berlalu saat John Mayer berdiri di atas panggung Grammy itu. Ia menerima penghargaan untuk kategori Best Male Pop Vocal Performance. Lagunya? Tentu "Your Body Is A Wonderland", andalan dari album debutnya, Room for Squares (2001). Lagu itu pula yang kemudian membawa Mayer banyak naik tingkat. Dari pemusik yang bermain rutin di klub kecil bernama Eddie's Attic, kemudian menjadi fantasi jutaan perempuan untuk mimpi basah.


"Ini semua terjadi amat cepat. Aku berjanji akan terus mengejar ketertinggalan," ujarnya di atas panggung.

Saat itu tak ada yang tahu apa yang ada di pikiran Mayer. Mungkin ia merasa ketakutan lagu "Your Body Is A Wonderland" akan membuatnya dikenang sebagai bintang pop cabul. Ia tentu tak mau dikenal seperti itu. Pada 1990, seorang tetangga memberinya kaset Stevie Ray Vaughan, dan Mayer langsung kesetanan ingin sepertinya. Satu hal yang pasti, SRV tak pernah dikenal sebagai bintang pop mesum, melainkan pahlawan musik blues. Maka mengejar ketertinggalan adalah janji Mayer pada dirinya sendiri, bukan hanya untuk para penggemarnya.

Setelahnya kita sama-sama tahu bahwa Mayer bukan sekadar bintang pop. Ia mesum, bisa jadi. Besar mulut, tentu. Karena itu ia menciptakan lagu "My Stupid Mouth". Curhatannya adalah: My stupid mouth has got me in trouble. I said too much again to a date over dinner yesterday, and I could see she was offended.

Tapi Mayer lebih dari itu semua. Ia penyanyi pop berjiwa blues, yang diberkahi oleh sensibilitas musik pop. Ia melodius. Bisa menciptakan lagu-lagu yang begitu lengket di telinga. Pengaruh blues-nya seperti bisa berkelindan dengan amat anggun. Ia bisa memainkan gitar sebagus SRV (tentu ini perdebatan yang tak bakal usai), tapi jelas ia pencipta lagu pop yang lebih bagus ketimbang idolanya itu.

Selain itu, John Mayer punya kisah panjang tentang patah hati. Ada banyak lagu bagus yang hadir berkat patah hati, dan Mayer adalah salah satu maestro lagu patah hati di abad 21. Ia punya sifat dasar yang dibutuhkan: rapuh. Tak percaya diri, walau sudah jadi mega super star. Pernah pada 2003, di awal kariernya, ia berkisah pada Jenny Eliscu dari Rolling Stone tentang keminderan terhadap fisiknya.

"Aku punya dagu yang mirip belahan pantat. Kepalaku amat besar sedang badanku amat kurus. Aku bukan tipikal orang yang menarik secara konvensional," katanya.

Saat kepopulerannya mencapai titik amat tinggi setelah merilis Continuum (2006) dan Battle Studies (2009), kerapuhan Mayer semakin menjadi. Bertambah dengan satu sindrom mengerikan yang bisa membunuhnya perlahan: kesepian.

Dalam The Dirty Mind and Lonely Heart of John Mayer yang ditulis Erik Hedegaard untuk Rolling Stone, Mayer mengatakan bahwa ia sering kali mengalami ditinggal perempuan saat akan bercinta. Naskah itu dibuka dengan deskripsi yang amat getir, sekaligus komikal: Mayer berada di sebuah klub malam, minum Grey Goose, sedikit oleng, dan kemudian melihat seorang perempuan menarik. Mayer mendekatinya. Ngobrol. Mereka setuju untuk melanjutkan obrolan dan hal-hal menarik lainnya di atas ranjang. Semua tampak berjalan lancar dan akan masuk bagian paling menyenangkan, hingga tiba-tiba si perempuan bangkit dari kasur dan memakai baju.

"Aku tidak sabar menunggu reaksi kawan-kawanku kalau aku telah menolak John Mayer," ujar si perempuan itu. Kurang ajarnya, sebelum minggat, gadis itu sempat-sempatnya bilang ke Mayer: "bisakah aku minta tanda tanganmu?"

Namun, Mayer mungkin memang ditakdirkan sebagai Majnun era kiwari. Setelah citra sebagai bintang pop mesum berhasil ia tanggalkan dengan karya-karya gemilang, ia kini dikenal sebagai seorang musisi pembuat lagu-lagu patah hati kualitas premium.

Continuum mungkin adalah album terbaiknya. Di sana, Mayer menulis lagu-lagu dahsyat seperti "Slow Dancing in A Burning Room", "Dreaming with a Broken Heart", hingga "I'm Gonna Find Another You". Namun selain urusan hati retak atau remuk atau berantakan atau pecah, Mayer menunjukkan sentuhan pop yang makin terasah di lagu-lagu seperti "The Heart of Life", "Vulture", juga "Belief".


Jalan Landai dan Berkabut Mayer
Akan tetapi, dari sana jalan Mayer mulai menurun dan tampak gelap. Ia tampil di banyak kabar gosip, mengencani banyak artis. Ia juga memberikan komentar kontroversial, lagi-lagi karena mulut besarnya. Dalam wawancara dengan Playboy, Mayer menceritakan kisahnya berkencan dengan Jennifer Aniston dan Jessica Simpson (Mayer menyebut Simpson sebagai sexual napalm). Ia juga dituduh rasis karena melontarkan kata nigger di wawancara itu, juga saat menyebut zakarnya sebagai white supremacist dan karena itu enggan berkencan dengan perempuan berkulit hitam.


Di tengah badai kontroversi karena mulutnya, Mayer kemudian mengambil keputusan paling cermat dalam hidupnya: mengambil jeda dari lampu sorot popularitas. Ia kemudian menggarap album barunya. Mayer juga belajar menahan diri untuk penggarapan album ini, apalagi ia juga sempat melakukan operasi mengangkat granuloma di sebelah pita suaranya.

"Aku banyak melakukan terapi. Kemudian melakukan istirahat bagi pita suara. Tidak minum alkohol. Tidak menyantap makanan pedas. Dan tidak ngomong. Sebagian besar di bulan September aku lalui tanpa bicara sedikit pun," tulis Mayer dalam blog pribadinya. Ini tentu usaha nan berat, mengingat betapa senangnya ia mengoceh.

Selain itu Mayer juga melakukan pengembaraan, pergi ke kota-kota kecil di AS bagian tengah. Alabama, Pennsylvania, Ohio, dan berakhir dengan pindah domisili ke Bozeman, kota kecil berpenduduk 43 ribu orang di Montana. Tujuannya adalah, "Melancong ke kota-kota kecil, lebih banyak melihat dan mendengarkan."

Hasilnya adalah Born and Raised (2012). Mayer menyebut album ini sebagai "...album paling jujur yang pernah aku buat." Selain itu, Mayer menampakkan pengaruh musikal yang lebih luas. Kali ini ia menampilkan pengaruh dari Laurel Canyon circa 1970-an, saat daerah di Los Angeles itu dihuni oleh musisi seperti Carole King, The Byrds, Neil Young, hingga The Eagles. Album in juga seperti wujud penghormatan Mayer kepada musisi folk besar seperti Dylan, Crosby, dan Nash.

Mayer memang terdengar amat jujur di album ini. Salah satu lagu paling personalnya mungkin "Shadow Days".

Ada kalimat seperti "Did you know that you could be wrong and swear you’re right. Some people been known to do it all their lives." Atau "I’m a good man with a good heart. Had a tough time, got a rough start. But I finally learned to let it go." Juga tentang kesepian akut yang ia telan, "But you find yourself alone, just like you found yourself before. Like I found myself in pieces on the hotel floor." Juga tentang betapa menyebalkannya menjadi jujur dan apa adanya.

Video lagu ini dibuat Mayer di pedesaan Idaho dan beberapa lokasi kota kecil yang tak disebutkan letaknya. Perasaan hangat menjalar saat video menunjukkan sepasang pasangan suami istri berusia lanjut pengrajin harmonika. Mungkin gambar itu sengaja ditampilkan karena keinginan Mayer yang belum kesampaian hingga sekarang: menemukan pasangan yang benar-benar bisa bertahan hingga maut menjelang.




Patah Hati dan Kesepian Berikutnya
Saya sempat salah sangka sewaktu berpikir Mayer sudah selesai dengan urusan patah hatinya. Continuum sudah dibuat, dan mungkin tak akan bisa dilampaui, bahkan oleh pembuatnya sendiri. Namun apa boleh buat, Mayer masih mencari segala yang berarti. Ia melabeli album barunya The Search for Everything, dirilis secara resmi pada 14 April 2017. Namun sebelumnya, Mayer sudah merilisnya dalam gelombang pertama (Januari 2017) dan gelombang kedua (Februari 2017), masing-masing berisi 4 lagu.


Mayer seperti enggan minggat dari patah hati berat. Sebagian menganggap penyebabnya adalah Taylor Swift. Sebagian lagi berpikir semua elegi patah hati terbaru Mayer disebabkan oleh Katy Perry. Apapun itu, terima kasih pada mereka yang meremukkan hati Mayer. Ia masih bertaji membuat lagu ngenes yang sama sekali tidak kacangan.

Kita bisa melihatnya dalam "Still Feel Like Your Man". Di video klipnya, kita bisa melihat Mayer yang lebih dandy ketimbang penampilannya kala penggarapan Born and Raised. Mayer juga tampak lebih santai dan mencoba untuk jadi lucu dengan membuat video klip ceria —salah satu adegannya menampilkan Mayer berjoget dengan dua ekor panda. Lagu ini menampilkan groove asyik yang sukar membuatmu tak menggoyangkan kepala.

Pengaruh drummer Steve Jordan dan bassist Pino Palladino rupanya amat kental. Membuat Mayer kembali menjadi guitar man, seperti saat ia bermain di John Mayer Trio bersama Steve dan Pino. Lagu "Still Feel Like Your Man", meski tampaknya adalah lagu pop biasa, coba mainkan dengan gitar. Kamu pasti tahu betapa rumitnya lagu ini. Begitu pula di lagu "Helpless", yang menampilkan Mayer versi funk, lengkap dengan solo gitar yang mengingatkan kita pada Mayer versi Continuum.

Benang merah album ini tetap patah hati dan perasaan Mayer yang memang seperti gelas: rapuh. Setidaknya dari 12 lagu, ada 6 lagu yang berkisah tentang patah hati. Mulai dari "Still Feel Like Your Man", "Emoji of a Wave", "Helpless", hingga "Moving On and Getting Over". Kali ini Mayer berhasil mengemas lagu patah hati dengan berbagai warna, tidak hanya aura kelabu.

Lagu "Moving On and Getting Over", misalkan. Menampilkan sapuan R&B yang menampilkan merah, biru, hijau, bahkan merah muda di kepalamu. Ritmenya seperti hari Sabtu malam, saat teman-temanmu mengajakmu nongkrong di kafe yang riuh tapi kamu tolak karena enggan ke mana-mana selain rebahan di sofa sembari menyelesaikan "The Life and Times of the Thunderbolt Kid".

Pencarian panjang Mayer terhadap perempuan yang, "ia kagumi melebihi aku mengagumi diriku sendiri" memang masih belum usai. Mayer juga menulis bahwa ia belum usai berubah. Mungkin ia tetap merasa tidak percaya diri setelah sekian lama dan sekian terpaan tidak menyenangkan dalam hidup. "I may be old and I may be young, but I am not done changing," katanya dalam "Changing".

Tapi kita semua tahu, bahwa setiap pencarian Mayer terhadap apapun — entah jati diri, hingga kemapanan perihal asmara— selalu membuahkan album yang apik. Untuk itu, mari berdoa pencarian ala Mayer itu tak akan pernah usai.



Itulah yang dapat saya bagikan ke kalian. Tak lupa berterima kasih kepada kalian yang bersedia meluangkan waktunya untuk membaca blog ini.
Semoga bermanfaat kawan.